Ticker

6/recent/ticker-posts

Gereja Tua Sikka, Paduan Nuansa Eropa dan Flores

 

(Gereja Tua Sikka)

Maumere punya destinasi wisata religi yang patut dikunjungi. Sebuah gereja yang telah berusia seratus tahun lebih, akan tetapi masih awet sampai saat ini. Namanya Gereja St. Ignatius Loyola atau dikenal luas sebagai Gereja Tua Sikka. Gereja yang sarat nilai historis ini berada di Kampung Sikka atau Natar Sikka, sebuah kampung pesisir yang permai di ujung Selatan kota Maumere. 


Ketika tiba di sini, kita akan disambut lambaian nyiur kelapa di sepanjang jalan, serta bunyian debur ombak keras khas orkestra pantai selatan. Di antara barisan bukit dan bentangan pantai itulah, gereja yang beratap genteng merah marun ini anggun berdiri.


Sejarah Singkat 

Gereja ini menjadi salah satu penanda masa karya para imam Jesuit, selepas era Dominikan yang menaburkan benih iman Katolik di wilayah Sikka. Gereja dibangun oleh Pastor JF Le Cocq D’armanddaville SJ. Misionaris dari Portugis, dibantu oleh Raja Don Alexu Ximenes da Silva bersama masyarakat kerajaan Sikka. Adapun arsiteknya adalah Pastor Antonius Dijkmans SJ yang juga mendesain gedung Gereja Katedral Jakarta. Gereja ini diresmikan oleh Pastor Yohanes Engbers SJ pada tanggal 24 Desember 1899, dalam sebuah misa malam Natal.


(Gereja Tua Sikka nampak dari depan)

Sejak peresmiannya, gereja yang memakai 360 kubik kayu jati yang didatangkan dari Pulau Jawa ini tetap kuat dan kukuh sampai saat ini. Bahkan ketika Maumere dilanda gempa dahsyat dan tsunami pada akhir tahun 1992, Gereja Tua Sikka tetap tegak berdiri. 


"Dulu kapal dari Jawa itu tidak bisa berlabuh, karena kontur pantai yang landai. Kayu jati pun dilarungkan ke laut, barulah ditarik warga sampai ke darat," tutur Goris Tamela (72), tetua adat setempat. Menurut Goris, peristiwa itu telah membuat kayu-kayu jati diawetkan secara alamiah oleh air garam laut, sehingga teksturnya menjadi kuat sekalipun telah berusia lebih dari satu abad.


Paduan Budaya Eropa dan Flores, Sikka

Bila dipandang dari depan, gereja ini berbentuk dua kerucut yang saling bersusun simetris. Di atasnya, menjulang sebuah menara lonceng yang pada puncaknya terpancang salib logam berwarna putih. Pada bubungan pintu masuknya tertoreh tulisan berbahasa Sikka: "Sawe-sawe potat dese, poi Tuhan gera hude", yang berarti: Segala-galanya akan lenyap, hanya Tuhan yang tinggal tetap.



Ketika memasukinya, kita akan melihat langit-langit gereja yang dibuat tanpa penutup, sehingga terpampang jelas jejeran balok jati yang saling bersambungan satu sama lain. Pemandangan ini sungguh eksotis, kita seakan berjalan di bawah lengkungan kerangka tulang-tulang rusuk seekor ikan paus purba.


Selayang pandang, rancang bangun gereja ini dipengaruhi gaya renaisans dan barok yang kala itu populer di Eropa. Nuansa Eropa itu dipadupadankan dengan budaya Flores, khususnya Sikka. Cita rasa lokal ini tergambar pada dindingnya yang bermotif tenun daerah, yang semakin menambah nilai estetis pada Gereja Tua Sikka.


(Motif Wenda Kapawuang)

Pertama, pada dinding di bagian altar dilukis motif gabar. Motif ini hanya terdapat pada sarung yang dikenakan raja. Motif ini menjadi simbol keagungan dan kesahajaan, sekaligus tanda perlindungan dari Tuhan kepada umatNya. Kedua, pada dinding bagian umat terlukis motif wenda kapawuang. Motif berdasar hitam ini mengungkapkan peran kapas yang tak lepas dari keseharian warga Sikka. Kedua motif tersebut sudah dilukis sejak kali pertama gereja ini berdiri dan hanya diwarnai ulang bila pudar. 



Lokasi dan Akomodasi 

Gereja Tua Sikka berlokasi di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka. Saat ini belum ada penginapan atau homestay di sekitar desa ini. Jadi, wisatawan yang ingin ke gereja ini bisa menginap di pusat kota, Maumere.


Salah satu rekomendasi hotel di Maumereialah Hotel Sylvia. Hotel bintang 3 ini besampingan dengan Terminal Madawat atau beralamat lengkap di Jl. Gajah Mada No. 88, Madawat, Alok. Hotel ini memiliki kolam renang dan menyediakan pula moda transportasi. Jarak tempuh dari hotel Sylvia ke Gereja Tua Sikka sekitar 35-45 menit berkendara.     


Bila berkunjung ke gereja ini sebaiknya pada pagi atau sore hari, dikarenakan suhu kala siang yang lumayan panas. Karena itu, disarankan pula untuk membawa botol minum pribadi. Selain itu, tersedia juga kotak donasi bagi pengunjung yang ingin berkontribusi dalam perawatan dan pemeliharaan gereja.

 


Post a Comment

0 Comments