Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

YTF Anti TPPO Adakan Pelatihan ‘Norms Change dan Kampanye Media Sosial’ bagi 17 Peserta NTT di Maumere

(Suharti memberikan materi kepada para peserta)
Maumere, — YTF (Youth Taskforce) Anti TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) mengadakan pelatihan Norms Change dan Kampanye Media Sosial bagi 17 peserta perwakilan individu dan komunitas dari berbagai wilayah di NTT, pada 10-15 Februari 2023 di Aula St. Camillus Social Center Maumere.

YTF merupakan gugus tugas anak muda yang diprakarsai pada 2021 oleh KITA INSTITUTE dan Zero Human Trafficking (ZHTN) dan didukung Mensen Meet Een Missie (MM). 

YTF melibatkan 25 orang anak muda dari berbagai provinsi di Indonesia yang bertujuan agar orang muda mampu melakukan gerakan penyadaran dan kampanye masif tentang TPPO di media sosial dan di komunitas lokal. Saat ini anggota YTF aktif melakukan kampanye media sosial serta membuat konten-konten yang diunggah di media sosial ZHTN.

Adapun YTF memberikan pelatihan pertama bagi kaum muda di NTT karena bertolak dari riset MM bahwa NTT menjadi provinsi dengan jumlah korban TPPO terbanyak di Indonesia. Dengan demikian, pelibatan aktif kaum muda NTT penting untuk pencegahan  

Pelatihan ini dibuka oleh Koordinator Zero Human Trafficking Network, Pater Agus Duka, SVD. 

Pater Agus mengatakan, selama ini di NTT yang berjuang melawan perdagangan manusia mayoritasnya orang tua. Masih minim partisipasi orang muda lokal. “Pelatihan ini dapat memberi perspektif baru agar kaum muda lebih peka dan aktif dalam gerakan bersama ke depannya” ungkap Pater Agus. 

Eka Munfarida Irfiani selaku Direktur KITA INSTITUTE mengharapkan dengan pelatihan ini peserta dapat memahami perubahan norma sosial dan mengembangkan strategi edukasi lewat media sosial dalam kaitannya dengan perdagangan manusia.   

Hadir sebagai fasilitator Iwenk Karsiwen, Suharti , dan Mohammad Pandu.

Iwenk Karsiwen, Ketua Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (KABAR BUMI) memaparkan perihal situasi human trafficking di Indonesia dan NTT. “Minimnya infrastruktur dan fasilitas di NTT makin memudahkan para pekerja migran memakai jalan pintas yang berisiko tinggi” kata Karsiwen. 

Suharti dari Rifka Annisa menekankan tiga poin penting terkait Norms Change yakni nilai hidup, transformatif gender, dan metode dekonstruksi reflektif. “Proses reflektif menjadi landasan utama sebagai fasilitator di lapangan nanti. Dengan refleksi pengalaman pribadi digali kembali sebelum mengambil langkah yang tepat dengan situasi konkret masyarakat” tutur Suharti.  

Mohammad Pandu dari Jaringan GUSDURian memberikan materi kampanye media sosial dalam isu kekerasan berbasis gender dan perdagangan manusia. “Melalui pelatihan kampanye media sosial peserta mampu menyebarkan narasi anti perdagangan manusia secara lebih luas dan sesuai konteks di NTT” jelas Pandu. 

Para peserta begitu semangat dan interaktif mengikuti pelatihan selama lima hari ini. Selama pelatihan diselingi dengan aneka ice breaking, maupun ja’i bersama sehingga suasana kelas berjalan dengan 

Oswyn Nule peserta asal Kefa, TTU merasa amat senang mengikuti kegiatan ini karena dapar berkenalan dan berjejaring dengan para peserta lain dari berbagai wilayah di NTT.

Katarina Lamablawa peserta asal Adonara amat siap menjadi bagian dari YTF Simpul NTT. “Semoga semua materi dan narasi yang telah kami pelajari menjadi aksi nyata selepas pelatihan ini” harap Katarina yang sedang berkuliah di Kupang. 

Pelatihan ini ditutup dengan acara Cultural Night. Seluruh peserta memakai pakaian adat dari daerah masing-masing serta menampilkan beragam acara budaya lokal dalam spirit melawan perdagangan manusia di NTT. (YB)


Post a Comment for "YTF Anti TPPO Adakan Pelatihan ‘Norms Change dan Kampanye Media Sosial’ bagi 17 Peserta NTT di Maumere"