Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Urgensi Ekosistem Digital bagi Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0


Belakangan ini kita mendengar berbagai seruan terkait revolusi industri 4.0. “Bersiaplah hadapi era 4.0”, “Kita tidak boleh kalah saing di era 4.0”, “Awas revolusi industri 4.0 menggilas kita semua”. Seruan-seruan ini menjadi alarm yang mengingatkan kita akan revolusi gelombang keempat.

Revolusi industri 4.0 di satu sisi membawa perubahan yang maju secara besar-besaran. Di sisi lain akan memberikan pukulan mundur bagi setiap pihak tak mampu beradaptasi dengannya. 

Tidak sebatas industri saja, revolusi 4.0 juga membawa pengaruh besar di bidang lainnya, termasuk bidang pendidikan. Kini, perguruan tinggi di tanah air dituntut untuk beradaptasi dengan era ini. 

Perguruan tinggi pun memiliki peranan penting. Mengapa demikian? Karena ibarat gerbang terakhir, perguruan tinggi berperan menghantarkan generasi muda ke medan lapangan kerja. Namun, sebelum lebih lanjut menjelaskan peran perguruan tinggi di era ini, kita perlu terlebih dulu membahas revolusi industri 4.0. 

Industri 4.0 dan Making Indonesia 4.0 

Menurut Akmal, industri 4.0 adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Revolusi industri 4.0 merupakan era keempat. Sebelumnya telah terjadi tiga revolusi industri, pertama era mesin uap, kedua era elektrifikasi, dan ketiga era komputer. 

Kita memasuki industri 4.0 sejak tahun 2011 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi (2019). 

Sebagai wujud kesiapan menghadapi era ini, pemerintah kita melalui Kementrian Perindustrian meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 pada April 2018. Peta jalan ini menjadi strategi bangsa kita dalam beradaptasi dan berinovasi di era 4.0. 

Peta jalan Making Indonesia 4.0 berfokus pada lima sektor manufaktur, yakni, industri makanan dan minuman, industri tekstil, industri otomotif, industri kimia, dan industri elektrik. 

Pemerintah juga telah menetapkan 10 langkah prioritas nasional demi mewujudkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Langkah strategis ini bertujuan untuk mempercepat pengembangan industri manufaktur nasional agar memiliki daya saing di kancah global. 

Adapun pada langkah ketujuh dari strategi tersebut ialah peningkatan sumber daya manusia (SDM). SDM diyakini sebagai kunci sukses pelaksanaan Making Indonesia 4.0. Dalam konteks inilah perguruan tinggi mewujudkan peranannya dalam meningkatkan mutu SDM bangsa kita. 

Kesadaran di Tengah Tantangan

Dalam era 4.0 ini, perguruan tinggi di tanah air juga dituntut untuk mampu beradaptasi dan berinovasi. Perguruan tinggi yang tak mampu melakukan hal ini tentu akan sulit dalam menjawab kebutuhan zaman yang terus berubah.

Namun, dalam mengaplikasikan teknologi 4.0 tentu bukanlah perkara mudah. Tentu terdapat banyak halangan dan rintangan. Satu di antaranya ialah penerapan teknologi yang belum merata di setiap daerah. Hal ini juga dikarenakan kondisi geografis Indonesia sebagai negara negara kepulauan.

Meski usaha pemerataan teknologi butuh proses jangka panjang, telah muncul usaha warga negara kita untuk beradaptasi. Contohnya waktu pandemi, sistem pendidikan kita ditantang untuk cepat beradaptasi di tengah disrupsi teknologi. Kelas yang sebelumnya dijalankan secara tatap muka (luring) mesti dilakukan secara jarak jauh (daring).

Walau banyak kendala berupa sarana pra sarana, tidak menutupi kesadaran kita untuk terbuka dengan perubahan zaman. Saya melihat kesadaran inilah pintu masuk bagi kita menyambut era 4.0. Kesadaran untuk terbuka akan memampukan kita tetap eksis di tengah arus zaman yang terus berubah.

Berpijak dari kesadaran akan keterbukaan ini saya pun merekomendasikan pembaruan sistem dalam perguruan tinggi kita. Pentingnya pembaruan sistem menjadi tanda kesiapan perguruan tinggi di era 4.0. Walau belum semua tekonologi 4.0 merata di setiap daerah, setidaknya perguruan tinggi sudah secara perlahan membangun sistem bagi generasi muda agar lebih adaptif di era digital. Rekomendasi saya ialah menciptakan ekosistem digital dalam perguruan tinggi.   

Ekosistem Digital dalam Perguruan Tinggi

Menurut Dian Budiargo ekosistem digital ialah bentuk interaksi sosial melalui infrastruktur, seperti software, hardware, dan devices. Dengan demikian, seseorang bisa berbagi informasi secara cepat dan melahirkan virtual community sebagai bentuk komunitas sosial yang muncul di dunia syber.

Dengan adanya ekosistem digital membuat institusi lebih cepat mengadopsi teknologi. Di samping itu, terbangunnya lingkungan yang terintegrasi memudahkan institusi mengelola sistem operasionalnya dan tentunya mengurangi biaya operasional (2020). 

Pengertian dan manfaat di atas, menunjukkan keunggulan dari ekosistem digital. Oleh karena itu, ekosistem digital urgen diimplementasikan dalam institusi perguruan tinggi. 

Menurut penulis terdapat dua komponen urgen dalam ekosistem digital. Pertama, adanya koloborasi. Setiap perguruan tinggi perlu berkolaborasi dengan lembaga eksternal yang juga punya visi dengan revolusi 4.0. Contohnya berkolaborasi dengan Kominfo, start up nasional atau perusahaan global. Dengan koloborasi kedua belah pihak akan saling bersinergi, terkhususnya perguruan tinggi akan semakin menambah kapasitasnya.

Kedua, adanya keterlibatan. Idealnya ekosistem digital tidak semata bermanfaat sebatas lingkungan kampus, tetapi mesti pula berdampak positif bagi lingkungan masyarakat sekitar. Hal ini merupakan salah satu perwujudan dari tri dharma perguruan tinggi yakni pengabdian.  

Melalui pengabdian ini mahasiswa terlibat secara langsung dengan situasi konkret . Pengalaman keterlibatan ini menjadi acuan dasar untuk menciptakan teknologi terapan yang berdaya guna bagi masyarakat. 

Ekosistem digital mampu membarui pola-pola konvesional ke dalam bentuk yang lebih modern. Ekosistem digital menyata lewat adanya sistem E-Learning, E-Library, dan sebagainya. Selain lebih efektif dalam hal waktu dan hemat biaya, adanya ekosistem digital menjadi wadah internalisasi kecakapan digital sebagai wujud nyata peningkatan SDM.

Penerapan ekosistem digital dalam perguruan tinggi, membuat seluruh elemen di dalamnya, teristimewa mahasiswa lebih melek terhadap dunia digital. Hemat saya inilah bentuk internalisasi kecakapan digital. 

Proses internalisasi kecakapan digital tidak selalu berarti butuh teknologi level tinggi. Justru kecakapan digital para mahasiswa dapat dibiasakan lewat hal-hal kecil dalam kegiatan di kampus. Contohnya,  membuat kartu KRS online atau mengadakan kelas dengan sistem hybrid, yakni secara daring dan luring.

Universitas Tanjungpura: Upaya Nyata Mewujudkan Ekosistem Digital

Di Kalimantan Barat, terdapat universitas yang menerapkan ekosistem digital ini, yakni Universitas Tanjungpura (UNTAN). Universitas ini memiliki tagline “Membangun Ekosistem Digital Menuju Universitas Siber”. Tagline ini menunjukkan komitmen Universitas Tanjungpura untuk selaras dengan kebutuhan zaman modern.

Adapun implementasi dari ekosistem digital tersebut, bisa dilihat dalam beberapa upaya ini:

  • Melakukan sistem pendaftaran secara online di website kampus
  • Membuat Sistem Informasi Akademiki (SIAKAD)
  • Mengembangkan Digital Library  
  • Membangun mitra kerja sama internasional
  • Menyediakan Sistem Informasi Kemahasiswaan dan Alumni (SIMALUN UNTAN)

Selain implementasi ekosistem digital di atas, Universitas Tanjungpura juga mengadakan beragam kegiatan lainnya seperti, Fakultas Kehutanan UNTAN yang menyelenggarakan series 3 (pengembangan kurikulum dan akademik) secara hybrid. 

Dosen Prodi Informatika Fakultas Teknik Untan yang memberikan sosialisasi pemanfaatan Google Drive untuk pengarsipan dokumen digital. UNTAN yang menjalin kerja sama dengan GOOGLE dalam melakukan upgrade Google Workspace (GWS) ke edisi Google Workspace for Education Plus. 

Prodi Statistika FMIPA UNTAN yang mengadakan pelatihan software kepada guru-guru SMP Negeri 5 Pontianak dan SMP Negeri 15 Pontianak. Pelatihan yang diadakan pada 29 Oktober 2022 ini sebagai wujud nyata pengabdian masyarakat. Inilah bukti keterlibatan UNTAN dalam mendukung masyarakat sekitar dalam menyongsong era 4.0.

Penutup

UNTAN yang berada di Pontianak, Kota Khatulistiwa, dapat menjadi model penerapan ekosistem digital bagi perguruan tinggi di daerah lainnya. Dari UNTAN kita belajar bahwa ekosistem digital yang ideal tidak sebatas bermanfaat di lingkungan kampus, tetapi mesti berdampak nyata juga bagi masyarakat di sekitar. 

Perguruan tinggi di tanah air perlu menyadari urgensi ekosistem digital di era revolusi industri 4.0. Kita berharap dengan menciptakan ekosistem digital perguruan tinggi Indonesia mampu mencetak SDM bermutu tak hanya di kancah nasional tetapi juga hingga internasional. 




yosebataona
yosebataona Hai, Sobat! Saya Yose dari Flores.Di blog ini saya menulis artikel travelling, opini, dan karya sastra. Selamat membaca.

14 comments for "Urgensi Ekosistem Digital bagi Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0"

  1. Tapi belakangan perguruan tinggi hanya sekedar berfungsi untuk doktrinasi ilmu tanpa terbuka terhadap perbedaan cara berpikir dari mahasiswa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul. Ini juga jadi alarm bagi kita semua. Kita berharap kampus bukan tempat mencetak sarjana kertas, tetapi dapur yang menghasilkan lulusan yang kreatif dan adaptif di era perubahan ini.

      Delete
  2. Cakap digital ... perlu banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul. Kecakapan digital adalah aset penting bagi setiap mahasiswa.

      Delete
  3. Pandemi Covid-19 sedikit banyak telah membawa dampak yang cukup signifikan dalam implementasi ekosistem digital ini. Saya ingat waktu itu segala hal yang lazimnya dilakukan secara offline dirubah total. Semua bergerak dengan internet. Pemerintah berupaya keras untuk mendukung digitalisasi kegiatan perkuliahan. Sehingga mungkin situasi pandemi kala itu bisa dikatakan sebagai titik awal tumbunya ekosistem digital (di wilayah Timur Indonesia).
    Selanjutnya? Tentu kita tidak perlu menunggu pandemi atau bencana lainnya. Optimalisasi fasilitas pendukung perlu mendapat perhatian serius, masyarakat umum pun perlu diedukasi agar melek teknologi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama pandemi kemarin kita belajar banyak hal. Teristimewa soal kelas online itu. Kita berharap ke depan ini optimalisasi fasilitas dapat berjalan lancar dan merata hingga pelosok daerah. Terkait edukasi teknologi, perguruan tinggi patut mengambil peran ini. Supaya terwujud nyata pengabdian perguruan tinggi bagi masyarakat di sekitar.

      Delete
  4. Sudah saatnya kampus bertransformasi. Digitalisasi adalah tantangan sekaligus peluang yang mesti ditangkap dunia kampus. Berharap bisa menciptakan generasi melek digital yang bisa menghasilkan. Karena sejujurnya, peluang kerja di dunia digital tidak membutuhkan orang dalam, bukan?

    Terima kasih untuk ulasan yang mencerahkan ini.
    Semoga keluar sebagai pemenang eee bro.
    Ini juga bagian dari digitalisasi dan percuana .

    ReplyDelete
  5. Luar biasa catatan-catatan kritis Bro Yose.
    Ekosistem digital menjadi satu daya tarik tersendiri bagi perguruan-perguruan tinggi. Meski terkesan belum semua perguruan tinggi sudah mengaplikasikannya secara efektif, saya yakin ke depannya, proses "ekosistematisasi digital" ini dapat lebih baik.

    Salah satunya melalui sosialisasi catatan-catatan kritis, agar bukan hanya ekosistem digital pada perguruan tinggi yang mendapat perhatian, melainkan juga ekosistem digital pada semua elemen.

    ReplyDelete